widget

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 16 Januari 2017

batik gentong motif seko


Batik khas Madura
Batik gentong motif seko
Bangkalan, Madura


          Siku yang biasanya di itu banyak di pelajara anak-anak sekolah dasar dimana dalil Pythagoras "jumlah kuadrat sisi-sisi yang membentuk siku-siku sama dengan kuadrat sisi miringnya." Siku itu sendiri  yang katanya orang Madura itu adalah seko. Memberikan inspirasi bagi para pembatik Madura dengan menggunakan teori siku-siku (seko).



          Di batik motif ini yang seko (siku) yang di buat untuk membatasi berbagai macam gambar yang ada di dalam batik motif seko. Batik yang biasanya gambarnya identic dengan kembeng (bunga). Di batik ini di gambarkan berbagai macam bunga-bunga dan yang menjadi pemisah di bentuk menyiku. 










dan yang unik pula dari batik ini ada nilai nilai yang di sampaikan oleh pembatik ketika kita tidak teliti tidak akan tahu. Batik motif seko (siku) ketika di lihat seperti gambar di samping akan mrmbentuk huruf M, M itu sandiri yang di artikan adalah Madura.

Batik Gentong tase’ malajeh


Batik Gentong tase’ malajeh
Tanjung Bumi
Bangkalan, Madura

          tase’ malajeh (laut malajeh) adalah salah tempat yang ada di ujung barat Madura tepatnya di kabupaten Bangkalan. Batik genntong motif tase’ malajeh (laut malajeh) terinspirasi dari laut malajeh, lautan yang menjadi pemisah antara Madura dengan Surabaya bisa di bilang lautan ini juga lautan lepas. Laut yang warnahnya biru muda menjadi ciri khas dari batik motif ini dengan menggunakan warnah laut dan gelombang ombak yang berdayu-dayu di gambar kan dengan bunga-bunga.

          Tase’malajeh (lautan malajeh) memiliki filosofi yang sangat dalam tase’(lautan)  laut ini memiliki beberapa keistimewaan. Pertama, berbagai jenis air yang masuk ke laut melalui sungai, tak mengubah laut. Kedua, berapa pun bayak air yang mengalir masuk ke laut, tak mampu mengubah keasinan laut. Ketiga, meski laut asin, tapi tak turut mempengaruhi para penghuninya. Sedangkan malajeh sendiri adalah tempat sisi barat dari Madura.
         

Sangat dalam nilai filosofi yang sampaikan oleh pembatik khususnya pembatik gentong tanjung bumi Bangkalan. 

batik motif deun beru


Batik Gentong daun ruberuan
Tanjung Bumi
Bangkalan, Madura


Dari kesekian banyak bermacam-macam batik yang ada di Nusantara, Madura memiliki ciri khas  yang melambangkan tentang madura itu sendiri, khususnya di daerah pesisir utara daerah Bangkalan. Salah satu yang sudah banyak di kenal di berbagai pencinta batik Nusantara, mereka pasti tahu tentang batik gentong tanjung bumi. Bukan hanya keindahan batiknya akan tetapi proses pembuatannya yang tergolong unik.
Karna banyaknya tumbuhan yang ada di seluruh pelosok khususnya di daerah Madura tanjung bumi, bangkalan deun ruberuan (daun waru) tergolong unik di karenakan bentuk daunya yang berbentuk seperti hati, yang indentik dengan lambang cinta.
Batik motif ini pula melambangkan keemosianalan seseorang dalam romantika kehidupan, dimana hati yang biasanya di lambangkan sebagai bentuk emosional hubungan saling menyayangi. Dan lambing itu pula melambangkan kedamaian yang bias menghargai ataupun merangkul dari berbagai golonan agar bias menjadi kesatuan. Gambar deun beru (daun waru) yang bentuknya seperti hati itu di gambarkan dalam warnah yang berbeda-beda dan kelihatan ketika di kumpulkan membentuk karakter yang bagus, ini juga sebenarnya memiliki nilai filosofi yang dalam bahwa cinta itu yang menyatukan perbedaan menjadi satu kesatuan yang sangat indah.

                

batik motif perkutu


Batik Gentong perkutut
Tanjung Bumi
Bangkalan, Madura


Dari kesekian banyak bermacam-macam batik yang ada di Nusantara, Madura memiliki ciri khas  yang melambangkan tentang madura itu sendiri, khususnya di daerah pesisir utara daerah Bangkalan. Salah satu yang sudah banyak di kenal di berbagai pencinta batik Nusantara, mereka pasti tahu tentang batik gentong tanjung bumi. Bukan hanya keindahan batiknya akan tetapi proses pembuatannya yang tergolong unik.
Dari berbagai macam banyak batik yang ada di Madura khusunya batik gentong tanjung bumi. Salah satunya yang bermotif perkutut terinspirasi dari burung yang memiliki makna bagi orang jawa, khususnya daerah jawa tengah. Burung perkutut adalah binatang sakral dan penuh mitos karena pengaruh legenda Joko Mangu. Legenda tersebut menyatakan pada jaman Kerajaan Majapahit ada burung perkutut milik Prabu Brawijaya V (raja Majapahit terakhir) yang merupakan jelmaan Pangeran dari Pajajaran yang bernama Joko Mangu. 
Suatu hari Burung Perkutut dengan nama Joko Mangu lepas dari sangkar tetapi berhasil diketemukan kembali oleh sang raja dalam perjalanannya di wilayah Yogyakarta. Tepatnya, ditemukan di daerah kretek, dekat Imogiri, Kabupaten Bantul. Sejak saat itu sampai sekarang, raja-raja Mataram keturunan Prabu Brawijaya penguasa Majapahit selalu melestarikan dan mentradisikan kekukututan (memelihara perkutut) dalam kehidupan Keraton Ngayogjakarta. Kekukututan dianggap memiliki nilai-nilai budaya adiluhung. Sejak Juni 1990 burung perkutut dijadikan maskot Propinsi DI Yogyakarta. 


”Kukila sendiri itu berarti manggung atau manuk anggung-anggungan
         
          Begitu pula dengan masyarakat Madura yang masih menyakini burung perkutut memiliki filosofis yang tinggi, yang dituangkan dalam kain untuk di jadikan suatu motif yang unik dan memiliki filosofi yang sangat dalam. Di batik motif perkutut inilah juga di ceritakan bahwa perkutut adalah salah satu burung yang Suara anggungannya dapat memberikan suasana tenang, teduh, santai bahagia dan seolah-olah manusia dapat berhubungan dengan alam semesta secara langsung. Selain dari itu perkutut memiliki keistimewaan luar biasa karena dianggap memiliki kekuatan gaib yang dapat mempengaruhi pemiliknya. sama pula dengan batik motif yang ini kelihatan anggung dan sedap untuk di pandang. 


Minggu, 15 Januari 2017

Batik Gentong panji shusi


Batik Gentong panji shusi
Tanjung Bumi
Bangkalan, Madura


Dari kesekian banyak bermacam-macam batik yang ada di Nusantara, Madura memiliki ciri khas  yang melambangkan tentang madura itu sendiri, khususnya di daerah pesisir utara daerah Bangkalan. Salah satu yang sudah banyak di kenal di berbagai pencinta batik Nusantara, mereka pasti tahu tentang batik gentong tanjung bumi. Bukan hanya keindahan batiknya akan tetapi proses pembuatannya yang tergolong unik.

Dari berbagai macam banyak batik yang ada di Madura khusunya batik gentong tanjung bumi. Salah satunya yang bermotif panji shusi yang artinya adalah suatu kebanggaan ataupun kekuasaan. Menurut pagatoa (sesepuh ) panji shusi adalah sebuah kebangga yang dimana hal itu yang bersangkutan dengan sifat orang Madura asli bahwa mereka tetap akan memengang teguh kebanggan / kekuasaan mereka yang di perolehnya. Di batik panji shusi ini pula tertuang gambar bunga yang tegak dan memiliki arti dan makna yang sangat dalam. Bunga yang melambangkan keangguna dan keeleganan di buat tegak tak tergoyahkan juga melambangkan sifat orang Madura yang tetap menjaga kehormatannya artinya kehormatan bagi orang Madura juga bias di deskripsikan sebagai kekuasaannya yang harus di jaga.


Sesepuh batik yang membuat panji shusi ini pula yang menyebutkan bahwa sanya motif ini elegan dan memiliki makna keangungan.

Batik Gentong kembang malate


Batik Gentong kembang malate
Tanjung Bumi
Bangkalan, Madura


Dari kesekian banyak bermacam-macam batik yang ada di Nusantara, Madura memiliki ciri khas  yang melambangkan tentang madura itu sendiri, khususnya di daerah pesisir utara daerah Bangkalan. Salah satu yang sudah banyak di kenal di berbagai pencinta batik Nusantara, mereka pasti tahu tentang batik gentong tanjung bumi. Bukan hanya keindahan batiknya akan tetapi proses pembuatannya yang tergolong unik.
Dari berbagai macam banyak batik yang ada di Madura khusunya batik gentong tanjung bumi. Salah satunya yang bermotif kembang malte (bunga melati). Melati adalah melati, melati yang tak pernah berdusta dengan apa yang ditampilkannya. Yang tak memiliki warna lain dibalik warna putihnya juga tak pernah menyimpan warna lain untuk berbagai keadaannya baik panas, hujan, terik ataupun badai yang datang melati tetap putih. Kemanapun dan dimanapun ditemukan, melati akan tetap menjadi melati selalu putih. Melati. Pada debu ia tak marah, meski jutaan butir menghinggapinya hingga menutup warna kelopaknya. Pada angin ia menyapa, berharap sepoinya membawa serta debu- debu itu agar ia tetap putih berseri. Karenanya, melati ikut bergoyang saat hembusan angin menerpa. Kekanan ia ikut, ke kiri ia pun ikut. Namun melati tetap teguh pada pendiriannya, karena kemanapun ia mengikuti arah angin, ia akan segera kembali pada tangkainya.
         

          Begitu pula masyarakat tanjung menuaikan filosofi kembeng malate (bunga melati) di dalam membuat suatu karya batiknya, yang masih tetap Nampak kelihatan walaupun berbagai banyak warnah di samping-samping bunga dalam kain batik itu masih kelihatan keteguhan dan kecerahan warna yang bunganya dalam kain. Keteguhan itu pun melambangkan tentang sifat orang Madura yang memiliki jiwa tanggu dalam menjalani kehidupan, mereka tersebar di semua plosok daerah dan di kenal seorang yang tangguh-tangguh.

Batik Gentong kembang tel-cantel


Batik Gentong kembang tel-cantel
Tanjung Bumi
Bangkalan, Madura


Dari kesekian banyak bermacam-macam batik yang ada di Nusantara, Madura memiliki ciri khas  yang melambangkan tentang madura itu sendiri, khususnya di daerah pesisir utara daerah Bangkalan. Salah satu yang sudah banyak di kenal di berbagai pencinta batik Nusantara, mereka pasti tahu tentang batik gentong tanjung bumi. Bukan hanya keindahan batiknya akan tetapi proses pembuatannya yang tergolong unik.
Dari berbagai macam banyak batik yang ada di Madura khusunya batik gentong tanjung bumi. Salah satunya yang bermotif kembang tel-cantel (kembang kantil/cempaka putih). merupakan tanaman yang mempunyai bunga berwarna putih dan berbau harum dengan tinggi pohon mencapai 30 meter. Bunga kantil yang mempunyai nama latin Michelia alba. Bunga Kantil mempunyai nilai tradisi yang erat bagi masyarakat Jawa, terutama di Jawa Tengah dan jawa timur. Bunga Kantil banyak di gunakan pada upacara perkawinan terutama sebagai hiasan sanggul dan keris. Selain itu bunga kantil juga digunakan pada upacara kematian dan tabur bunga (nyekar) yang biasanya di lakukan oleh orang jawa pada hari kamis / malam jum’at. Di madurapun adat yang seperti itu juga di lakukan dengan menggunakan kembang kantil atau yang biasa di sebut oleh masyarakat Madura adalah kembeng tel-cantel (kembang cantil/cempaka putih). Dalam bahasa Jawa, kantil berarti menggantung seperti halnya bunga ini. Bunga Kantil mempunyai makna ritual ‘kemantilkantil’ yang berarti selalu ingat dimanapun berada dan selalu mempunyai hubungan yang erat sekalipun sudah berbeda alam, sama seperti pemaham orang Madura. Sesuai dengan kehidupan masyarakat yang masih saat ini menjadi tradisi hubungan erat antar tetangga yang saimpai di anggap sebagai saudara sendiri, ketiaka memiliki masalah ataupun membuat acara Madura masih mengantung yang artinya dalam pandangan masyarakat Madura mengikat erat.
         

          Masyarakat atau pembatik tanjung bumi terinspirasi dari kembeng tel-cantel (kembang kantil/cempaka putih), dimana di dalam pengambaran bunga/kembang di batik ini di ikat ataupun digantung dengan utasan-utasan akar yang menyatukan/mengikat kembang satu sama yang lain. Dan warnahnya yang agak cerah banyak menggunakan corak-corak putihnya.